NEXT MATCH

NEXT MATCH
MAR 06 2011 02.45 AM

Selasa, 24 Januari 2012

Ternyata Cinta Saja Belum Tentu Menjamin Bahagia


"Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?", sebuah
pertanyaan tiba-tiba mengejutkan aku yang sedang
mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir Qur’an
di Mesjid komplek perumahanku sore ini. Rupanya
Mbak Artha tetangga satu blok yang tinggal tidak
jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke majelis
taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang
pertama yang aku kenal disini, Mbak Artha juga
yang memperkenalkanku dengan majelis taklim
khusus Ibu- ibu dikomplek ini. Hanya saja
kesibukan kami masing-membuat kami jarang
bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti
ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin
karena sama- sama perantau asal Jawa, kami jadi
lebih cepat akrab.
"Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota
mbak, Jadi Saya pergi sendiri", jawabku sambil
memakai sandal yang baru saja kutemukan
diantara tumpukan sandal-sendal yang lain.
"Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian bareng
suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin
Mas Bimo menghadiri majelis-majelis taklim", raut
muka Mbak Artha tampak sedikit berubah seperti
orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat
bercerita, mungkin lebih tepatnya mengeluarkan
uneg-uneg . Sebenarnya aku sedikit risih juga
karena semua yang Mbak Artha ceritakan
menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama
Mas Bimo. Tapi ndak papa aku dengerin aja,
masak orang mau curhat kok dilarang, semoga
saja aku bisa memetik pelajaran dari apa yang
dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi
kan menikah belum genap setahun, baru 10
bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman
pasangan lain yang sudah mengecap asam manis
pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya
sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun
lamanya.
"Dhek Lia, ndak buru- buru kan? Ndak keberatan
kalo kita ngobrol-ngobrol dulu", tiba-tiba mbak
Artha mengagetkanku. " Nggak papa mbak,
kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita
dah lama nggak ngobrol-ngobrol" , jawabku sambil
menuju salah satu bangku di halaman TPA yang
masih satu komplek dengan Mesjid.
Dengan suara yang pelan namun tegas mbak
Artha mulai bercerita. Tentang kehidupan rumah
tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama
Mas Bimo yang smakin lama makin hambar dan
kehilangan arah.
"Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan
menjalani proses pacaran selama hampir 3 tahun
sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-
sama berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja
dalam hal agama", mbak Artha mulai bertutur.
"Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun
juga tidak termasuk mahasiswa yang agamis.
Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa gaul,
tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami
berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan
sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib pasti
kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur
kewajiban saja. Mas Bimo orang yang sabar,
pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia
begitu mencintaiku, Proses pacaran yang kami
jalani mulai tidak sehat, banyak bisikan-bisikan
syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak
ada pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera
menikah karena dorongan syahwat itu begitu
besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima
ajakan mas Bimo untuk menikah".
"Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat
istikharah?", tanyaku penasaran. "Itulah dhek,
mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk
urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali
tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo emang akhirnya
menjadi seperti ini itu semua memang akibat
perbuatanku sendiri"
"Pentingnya ilmu tentang pernikahan dan tujuan
menikah menggapai sakinah dan mawaddah baru
aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian
guna meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui,
sama sekali tidak ada kreteria agama saat memilih
mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang
yang baik, udah mapan, sabar dan sangat
mencintaiku. Soal agama, yang penting
menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup.
Toh nanti bisa dipelajari bersama-sama itu pikirku
dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek, aku
Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target
untuk mendapatkan ikhwan atau laki-laki yang
pemahaman agamanya baik", papar mbak Artha
sambil tersenyum getir.
Aku perbaiki posisi dudukku, aku pikir ini
pengalaman yang menarik. Rasa penasaran dan
sedikit nggak percaya karena Mbak Artha yang aku
kenal sekarang adalah tipikal wanita sholehah,
berhijab rapi, tutur kata lembut, tilawahnya bagus
dan smangatnya luar biasa. Benar-benar jauh dari
profil yang di ceritakan tadi. Ternyata benar kata
pepatah, bahwa pengalaman adalah guru yang
paling berharga. Mungkin bertolak dari minimnya
pengetahuan agama, akhirnya mbak Artha
berusaha keras untuk meng-up grade diri. Dan
subahanalloh hasilnya sungguh menakjubkan.
Mbak Artha mekar laksana bunga yang sedang
tumbuh di musim semi, tapi siapa sangka ternyata
indahnya bunga itu tak lain karena kotoran-
kotoran hewan yang menjadi pupuk disepanjang
kehidupannya.
Rupanya harapan mbak Artha untuk bisa
menimba ilmu agama bersama-sama sang suami
tinggal impian. Mas Bimo yang diharapkan bisa
menjadi katalisator dan penyemangat ternyata
hanya jalan ditempat. Hapalan Juz Amma nya
belum bertambah, tilawah Al Qur'an- nya masih
belum ada perbaikan masih belum lancar.
Sementara kesibukannya sebagai Brand Manager
di salah satu perusahaan Telco milik asing, makin
menyita waktu dan perhatiannya. Masih syukur
bisa mengahabiskan weekend bersama Mbak
Artha dan Raihan anak semata wayang mereka,
kadang weekend pun mas Bimo harus ke kantor
atau meeting dan lain- lain. Tidak ada waktu untuk
menghadiri majelis taklim, tadarus bersama
bahkan sholat berjama’ah pun nyaris tidak pernah
mereka lakukan.
Aku jadi teringat khutbah pernikahanku dengan
Mas Adi, waktu itu sang ustad berkata "Rumah
tangga yang didalamnnya ditegakkan sholat
berjam’ah antara anggota keluarga serta sering
dikumandangkan ayat-ayat Allloh akan didapati
kedamaian dan ketenangan didalamnya"
"Dhek. ...", suara mbak Artha membuyarkan
lamunanku. "Iya mbak, saya masih denger kok.
Saya hanya berpikir ini semua bisa menjadi ladang
amal buat mbak Artha" , jawabku sigap supaya
nggak terlihat kalau emang lagi ngelamun.
"Pada awalnya aku juga berpikir seperti itu dhek.
Aku berharap Mas Bimo juga memiliki keinginan
yang sama dengan ku untuk memperdalam
pengetahuan kami terhadap Islam. Aku cukup
gembira ketika mas Bimo menyambut ajakanku
untuk sama-sama belajar. Namun dalam
perjalanannya, smangat yang kami miliki berbeda.
Mas Bimo seolah jalan ditempat. Sempat miris hati
ini ketika suatu saat aku meminta beliau menjadi
imam dalam sholat magrib. Bacaan suratnya
masih yang itu-itu juga dan masih terbata-bata. Aku
baru tau bahwa dia belum pernah khatam Qur’an.
Harusnya kan suami itu imam dalam keluarga ya
dhek?", mata mbak Artha mulai berkaca-kaca.
"Apa harapanku terlalu tinggi terhadap suamiku?
Bukankah harusnya suami itu adalah Qowwam,
pemimpin bagi istrinya. Lalu bagaimana jika sang
pemimpin saja belum memiliki bekal yang cukup
untuk menjadi seorang pemimpin?", suara mbak
Artha mulai bergetar.
"Terkadang aku ingin sekali tadarus bersama
suami, tapi itu semua nggak mungkin terjadi
selama suamiku tidak mau belajar lagi membaca
Al-qur' an. Aku juga merindukan sholat berjama’ah
dimana suami menjadi imannya sementara kami
istri dan anak menjadi makmumnya. Apa
keinginanku ini berlebihan dhek?", tampak bulir
bening mulai mengalir dipipi mbak Artha.
"Berbagai cara sudah ku coba, supaya Mas Bimo
bersemangat memperbaiki diri terutama dalam hal
ibadah. Tentunya dengan sangat hati-hati supaya
tidak menyinggung perasaannya dan supaya tidak
berkesan menggurui. Aku mulai rajin mengikuti
kajian-kajian keislaman, mencoba sekuat tenaga
untuk sholat 5 waktu tepat pada waktunya dan
tilawah qur’an setelah sholat subuh. Bahkan
berusaha bangun malam menunaikan tahajud
serta menjalankan sholat dhuha dipagi hari.
Semuanya itu kulakukan, dengan harapan mas
Bimo pun akan menirunya. Aku berharap sekali
dia terpacu dan semangat, melihat istrinya
bersemangat", papar mbak Artha dengan suara
yang agak tinggi.
"Tapi sampai detik ini semuanya belum
membuahkan hasil. Aku seperti orang yang
berjalan sendirian. Tertatih, jatuh bangun
berusaha menggapai cinta Alloh. Aku butuh orang
yang bisa membimbingku menuju surga. Dan
harusnya orang itu adalah Mas Bimo, suami ku"
Kurangkul pundaknya, sambil berbisik "sabar ya
mbak, mudah-mudahan semuai harapanmu akan
segera terwujud". Mbak Artha tampak agak tenang
dan mulai melanjutkan ceritanya.
"Dari segi materi materi apa yang Mas Bimo
berikan sudah lebih dari cukup, overall Mas Bimo
suami yang baik dan bertanggung jawab. Bahtera
rumah tangga kami belum pernah diterpa badai
besar, semuanya berjalan lancar. Sampai disuatu
saat mbak mulai menyadari sepertinya bahtera
kami telah kehilangan arah dan tujuan. Kami
hanya mengikuti arus kehidupan yang smakin
lama smakin membawa kami kearah yang tidak
jelas. Kami sibuk dengan aktifitas kami masing-
masing. Kehangatan, kemesraan, ungkapan
sayang yang dulu paling aku kagumi dari Mas
Bimo sedikit demi sedikit terkikis di telan waktu dan
kesibukannya. Dan yang lebih parahnya lagi, unsur
religi sama sekali tak pernah di sentuh Mas Bimo
sebagai kepala keluarga. Fungsi qowam sebagai
pemimpin dalam menggapai cinta hakiki dari Sang
Pemilik Cinta, terabaikan. Mungkin karena
memang bekalnya yang kurang. Sunguh, harapan
menggapai sakinah dan mawaddah serta rahmah
semakin hari kian jauh dari pandangan. Rumah
tangga kami bagai tanpa ruh dan kering", suara
mbak Artha mulai bergetar kembali.
Aku jadi speachless nggak tau musti berkata apa
lagi. Ternyata ketenangan rumah tangga mbak
Artha, menyimpan suatu bara yang setiap saat bisa
membakar hangus semuanya. Hanya karena satu
hal, yaitu alpanya sentuhan spritual dalam
berumahtangga. Atau mungkin juga adanya
ketidaksamaan visi atau tujuan saat awal menikah
dulu. Bukankan tujuan kita menikah adalah ibadah
untuk menyempurnakan setengah agama.
Idealnya, setelah menikah keimanan, ibadah kita
makin meningkat. Karena ada suami yang akan
menjadi murobbi atau mentor bagi istri, atau
kalaupun sebaliknya jika istri yang lebih berilmu
tidaklah masalah jika istri yang menjadi mentor
bagi suami. Yang penting tujuan
menyempurnakan dien guna menggapai sakinah
dan mawaddah melalui cinta dan rahmah makin
hari makin terwujud. Mungkin itulah sebabnya
mengapa kreteria agama lebih diutamakan
daripada fisik, harta dan keturunan.
Ternyata cinta saja tak cukup untuk bekal menikah,
begitupun dengan harta. Pernikahan merupakan
hubungan secara emosional yang harus
ditumbuhkan dengan sangat hati-hati, penuh
kepedulian dan saling mengisi.Bahkan puncak
kenikmatan sebuah pernikahan bukanlah dicapai
melalui penyatuan fisik saja melainkan melalui
penyatuan emosional dan spiritual. Pernikahan
adalah sarana pembelajaran yang terus menerus.
Baik untuk mempelajari karakter pasangan
ataupun untuk meng upgrade diri masing-masing .
"Dhek Lia.... ", Mbak Artha membuyarkan
lamunanku. "Makasih ya dhek dah mau jadi kuping
buat mbak", mbak Artha menggenggam tanganku
sambil tersenyum. "Mbak yakin dhek Lia bisa
dipercaya, do'akan supaya mbak diberikan jalan
yang terbaik sama Alloh" .
Aku pun tersenyum, "Insyaalloh mbak, makasih
juga dah mau sharing masalah ini dengan saya.
Banyak hikmah yang bisa saya dapat dari cerita
mbak. Saya masih harus banyak belajar soal
kehidupan berumah tangga mbak. Jazakillah" .
Tak terasa hampir 2 jam kami ngobrol di teras TPA.
Kumandang adzan dhuhur, mengakhiri obrolan
kami. Sambil menuju tempat wudhu mesjid untuk
sholat dhuhur berja'maah kusempatkam mengirim
sms ke mas Adi. "Mas aku kangen, kangen sholat
bareng, kangen tadarus bareng cepet pulang ya
Mas. Uhibbukafillahi Ta'ala " ***

Jumat, 27 Mei 2011

AKHIR PEKAN INI PAZIENZA BERKOSTUM BIANCONERI


Gelandang Napoli , Michele Pazienza tak lama lagi bakal menjadi pemain ketiga yang
direkrut oleh Juventus di musim panas ini.

Sebelumnya, Juve sudah
mendapatkan Andrea Pirlo dari AC
Milan dan Reto Ziegler dari
Sampdoria dengan status bebas
transfer. Kini Juve akan mendapatkan
pemain ketiga dengan juga dengan
status bebas transfer karena
Pazienza akan habis kontraknya di
Napoli pada bulan depan.

Pazienza dinilai cocok dengan
kebutuhan Juve yang sedikit
memiliki masalah di lini tengah, hal
tersebut juga yang menjadi
penyebab gagalnya Juve di musim
ini.

Beberapa pemain yang digadang-
gadang dapat menjadi pengganti
Pavel Nedved di lini tengah Juve
ternyata belum bisa memberi
kontribusi yang cukup signifikan
bagi Juve Milos Krasic, Felipe Melo dan
Mohammed Sissoko sering tampil
kurang konsisten, sedangkan
Simone Pepe lebih sering
bermasalah dengan cederanya
meski setiap kali tampil selalu memberi kontribusi yang maksimal
bagi Juve.

Dikabarkan, Pazienza telah
melakoni tes medis di Juve dan
penandatangan kontraknya
diperkirakan terjadi pada akhir
pekan ini.

Gelandang kelahiran tahun 1982 ini
memulai karirnya bersama Fogia
selanjutnya bergabung dengan
Udinese dan Fiorentina, pada tahun
2008 Pazienza bergabung dengan
Napoli.